Strategi Simultan, Solusi Produk Kopi Lokal dari Hulu ke Hilir


Giri Arnawa bersama H. M. Uzaini Areka dan rekan lainnya.

POSTKOTANTB, Mataram- Usai dikukuhkan Sabtu pekan kemarin, Pengurus DPD Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB, kini kembali melanjutkan upayanya dalam rangka mengembangkan produk kopi di Provinsi NTB.

"Jangan sampai nanti petani mengeluh, hasil produksi kopinya tidak ada yang terjual, karena tidak ada pembeli. Sehingga petani frustasi dan mengganti pohon kopi dengan tanaman lain yang dapat merusak konservasi hutan," ungkap Dewan Penasehat DPD Aski NTB, Giri Arnawa di angkringan De_Ngopi, Kapitan, Ampenan Selatan, Kota Mataram, Minggu (7/11).

Demi mengantisipasi persoalan tersebut, Aski NTB sudah mempersiapkan solusi inovatif. Salah satunya menjembatani serta menggerakan petani kopi yang berada di hulu dengan pelaku usaha di hilir, secara simultan. Sehingga produk produk lokal dapat terserap dengan maksimal.

Jika tanaman kopi dirawat dengan baik, maka pendapatan yang akan diperoleh petani melebihi usaha di bidang sayuran. Giri mencontohkan, dalam 1 pohon dapat menghasilkan beras kopi (Green Bean) seberat 1 Kilogram, seharga Rp. 100 Ribu.

"Kita biasa sebagai pelaku usaha membeli kopi Jenis Arabika yang masih Green Bean seberat 1,2 kilogram. kemudian dirosting menjadi 1 Kilogram. Dari harga Rp. 100 ribu tadi. Setelah di packing dan diberi label, maka akan dilepas dengan harga Rp. 300 ribu. Sebaliknya, dalam 1 Pack dapat mengisi 66 cup. Per-cupnya kita hargakan rata-rata Rp. 15 ribu. Dari harga ini akan menghasilkan Rp. 1 juta," bebernya.

"Nah, jumlah uang inilah yang akan berputar dan menjadi nilai tambah untuk daerah NTB. Jadi, Kami terus mendorong pelaku usaha tetap membeli kopi lokal. Jangan sampai dengan alasan gak ada barang, mereka malah menyuguhkan pelanggan dengan kopi Gayo. Jadi nilai tambah yang seharusnya berputar di NTB, akhirnya beralih ke daerah lain," sambungnya.

Dengan berjalannya usaha kopi dari hulu ke hilir, juga akan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja. NTB sendiri, sebut Giri, terdapat sebanyak 500 coffe shop. Jika  1 coffee shop dapat merekrut 2  bartender (Barista). Maka secara keseluruhan ada 1.000 Bartender yang terserap di seluruh coffee shop se NTB.

"Pemerintah daerah tidak harus menunggu kegiatan investasi industri secara besar besaran. Hanya perlu membangun kolaborasi yang mantab dengan Aski NTB atau organisasi perkopian lainnya," ujarnya.

Tidak hanya itu. Lanjut Giri, pemerintah daerah juga dapat mendorong setiap pelaku kopi, melalui sokongan alat-alat sederhana. Seperti alat pengupas biji merah, penggilingan (Huller) dan alat ayak. Jika alat-alat tersebut dapat diproduksi daerah, maka pemerintah juga telah mendorong penciptaan lapangan kerja.
 
H. M. Uzaini Areka.


"Jangan hanya membahas pesoalan ekspor saja. Tapi bagaimana pemerintah memulainya dari hal-hal yang kecil dulu. Karena usaha rumah masuk juga dalam konteks industri," singgungnya.

Senada disampaikan H. M. Uzaini Areka. Menurutnya, daerah NTB memiliki bentangan alam yang sangat luas, dengan potensi kopi yang cukup besar. Baik di lereng Gunung Rinjani, Pulau Lombok, hingga Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

"Ada lokasi baru yang masuk areal lereng Gunung Rinjani baru-baru ini. Tepatnya, di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, dengan ketinggian 1.200 MDPL. Kami sudah survei di sana dan sangat berpotensi untuk kopi jenis Arabika. Itu Dinas Pertanian sendiri baru tahu lokasi itu," ungkapnya.

Areka menegaskan, demi mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya para pelaku kopi, dibutuhkan keseriusan pemerintah daerah, dalam hal ini Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah beserta jajarannya.

Kendati kopi merupakan tanaman tahunan, dia menilai tanaman ini dapat memberikan manfaat yang cukup besar, baik untuk kebutuhan konservasi dan bahkan memberikan kontribusi dan nilai tambah untuk daerah. Saat ini saja, kaum milenial di sejumlah daerah sudah mulai beralih menggeluti profesi sebagai petani kopi, mengingat, kalkulasi keuntungan pasca panen, menjanjikan. yakni mencapai Rp. 100 juta dalam 1.000 pohon untuk kopi jenis Arabika

"Jika pemerintah daerah serius ingin mensejahterakan masyarakat, dari tanaman kopi saja, sudah bisa diandalkan. Tanaman jagung dan bawang baguslah. Akan tetapi Masih banyak lahan-lahan nganggur yang bisa kita kelola sebagai kebun kopi. Misalnya di bawah 800 MDPL, masih bisa dimanfaatkan dengan menanam kopi jenis Robusta," tandasnya.(RIN)