Taufik Surahman : Sosok Milenial Penggerak Pendidikan dan Ekonomi, Memaknai Kerjasama

Catatan

Didin Maninggara

Episode 1

----

Di lantai 3 Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, berlangsung sebuah acara penting, Jumat siang, 24 Desember 2021.

Sejumlah jurnalis diundang dalam acara itu mendiskusikan kemungkinan kolaborasi, tukar menukar gagasan, sungguh sangat menarik. Usai acara menjelang sore, saya bincang sejenak dengan orang yang tepat, sosok milenial usia 28 tahun. Ia adalah Taufik Surrahman, penggerak ekonomi dan pendidikan.

Dalam dunia akademisi, keahlian Taufik adalah Islamic Political Economy. Dalam dunia perbankan, sebagai Tim Ahli Dewan Pengawas Syariah Bank NTB  Syariah.

Taufik Surrahman (Tim Ahli Dewan Pengawas Syariah Bank NTB  Syariah)
Milenial dari Sasak tulen ini punya track record dan pengalaman dalam kerja tim content perbankan syariah yang kuat, piawi membangun koneksi dan relasi untuk kepentingan SDM NTB yang unggul dan berdaya saing.

Sebagai bincang awal, sekaligus perkenalan, sungguh banyak yang saya dapat. Ibarat berkunjung ke "pasar gagasan", sederet hal baru saya peroleh.

Taufik bercerita, diawali dengan pertanyaan, yang ia jawab sendiri. Mana yang lebih baik, dan lebih rendah hati, I and my friends, atau my friends and I? Tata bahasa Inggris, kabarnya kata Taufik, lebih memilih my friends and I (teman-teman saya dan saya) daripada I and my friends (saya dan teman-teman saya). Padahal, sama saja artinya. Karena itu hanya sekedar tukar tempat.

Analisa bahasa menyebutkan, bahwa dengan mendahulukan I (saya), itu bisa dibaca atau dimaknai sebagai superioritas pribadi. Berbeda dengan mendahulukan my friends (teman-teman saya) yang mengandung arti lebih menghargai orang lain, yang sama-sama bekerja dan menunjukkan kerjasama. My friends and I dan I and my friends, keduanya sama makna. Tapi, menurut Taufik, suasana dan cita rasanya berbeda.

Pria trendy yang beristrikan Eka Kurniawati Putri, melanjutkan bercerita tentang sukses TGB, sebutan populer TGH Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB dua periode (2008-2018).

Menurutnya, salah satu yang menjadi poin penting TGB dipercaya sebagai Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia  (BSI), yakni keberhasilan TGB dalam mengonversi PT Bank NTB menjadi PT Bank NTB Syariah pada 2018 saat masih menjadi Gubernur NTB.

Mengutip kata TGB, menjadikan Bank NTB menjadi bank Syariah, merupakan salah satu langkah mengapresiasi nilai yang dimiliki oleh umat Islam. Sebagian orang berpikir bila bank syariah seluruh nasabahnya muslim, kemudian muncul penilaian diskriminasi. Padahal, pusat keuangan Syariah terbesar berpusat di London, Inggris. Dunia Barat melihat sistem ini memberikan keberlanjutan bagi nasabahnya akan diterima dimanapun.

Di Indonesia sendiri, lanjutnya, sistem Syariah sudah memiliki Undang-Undang Perbankan Syariah, Undang-Undang Asuransi Syariah, ada Undang-Undang Sukuk Obligasi Syariah. Hal itu menunjukkan sistem Syariah telah diterima penuh di Indonesia dengan segala aspeknya.

Kedudukan sistem Syariah dan konvensional sudah setara. Sistem Syariah tidak sekadar sebagai pelengkap.

Taufik menyimpulkan, semua proses menjadi Bank NTB Syariah, dimulai dari kekompakan. Ya, termasuk kekompakan dalam melakukan perubahan besar harus memiliki visi yang kuat. Disusul dengan membangun sinergi dengan seluruh stakeholder. 

Ketika berbicara kekompakan, maka prinsip kerja yang mengutamakan my friends and I menjadi salah satu kuncinya. Tentu, ada penguatan lain, yakni kompetensi dan berintegritas. Sehingga ikhtiar membangun kerjasama yang berkemitraan dapat berjalan baik, mulai dari prosesnya hingga hasilnya, dengan memenuhi kaidah yang terbaik.

Pola kerjasama dengan prinsip my friends and I, menurut Taufik,  menghitung prestasi keberhasilan secara bersama harus dimaknai sebagai prestasi teman-teman dalam kerjasama. Bukan prestasi yang menonjolkan pribadi.***

(Bersambung)