Loteng, (postkotantb.com) - Mensukseskan program tanam padi pada tanam ke dua, dengan menggunakan sistem Demplot, Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Penyuluh UPT dan Kesehatan Hewan (Keswan) Praya Timur Lombok Tengah (Loteng).
Mengundang Badan Pelatihan Pertanian dan Perkebunan (Bapeltanbun) NTB, untuk berbagi trik jadi petani sukses,
Fauzi petugas dari Bapeltanbun NTB mengatakan, menjadi seorang petani ataupun petugas pengairan, itu bisa mendatangkan pahala dan bisa dikatakan sebagai pahlawan, terutama bagi para petugas pengairan.
Kenapa pihaknya mengatakan demikian, sebab memberikan perlakuan yang adil, dalam membagi air, itu sama artinya menyelamatkan para petani dalam memenuhi air ke tanamannya.
Kendati air tersebut bukan jatahnya, artinya misalnya dalam musim tanam ke dua, saat ini sedang di programkan tanam sistem demplot, ketika jatah untuk petani padi demplot airnya datang dan ada orang yang menanam tembakau atau yang lain dan mengambil air, itu sah dah saja dan tidak ada istilahnya mencuri air.
Sebab mereka mengambil air, pastinya mereka butuh dan disini lah, ada yang namanya rasa kemanusiaan dan petugas juga harus memberlakukan rasa adil.
"Ketika ada yang butuh kendati itu bukan haknya, ia kita biarkan saja sebab mereka juga butuh, namun disini petani yang kurang berkepentingan harus sadari kalau itu haknya, artinya silahkan ambil sesuai kebutuhan dan petugas pengairan juga harus menjelaskan dan memberikan secukupnya. Disini lah yang saya maksudkan rasa kemanusiaan dan petugas pun bisa kita katakan pahlawan," Katanya panjang, Kamis (9/6).
Kenapa harus demikian lanjutnya, sebab dengan adanya perubahan iklim terutama yang berdampak pada menurunnya ketersediaan sumber daya air pada lahan kering, lahan tadah hujan dan lahan sawah irigasi.
Tentunya pemerintah memberlakukan pembatasan tanam, seperti, saat program tanam sistem demplot. "Karena ini sebagai percontohan, makanya kita coba satu kelompok tani, satu hektar tanam," Jelasnya.
Karena perubahan musim, tentunya penerapan irigasi hemat, perlu diterapkan untuk adaptasi dan peningkatan produksi pertanian dan program ini sukses.
Dijelaskan, musim tanam ini terbagi menjadi dua INTERMITTEN IRRIGATION atau irigasi Berselang. Dimana, pemberian air irigasi pada petak perlakuan irigasi berselang dilakukan dengan memberikan irigasi sampai kondisi tanah di lahan tergenang 1 cm, setelah itu pemberian dihentikan.
Pemberian air berikutnya, dilakukan setiap 2 hari dengan perlakuan yang sama.
Sistem ini lanjutnya, tidak menggunakan alat monitor. Masukkan air pada petakan sawah setinggi 3-5 cm, kemudian pintu pemasukan dan pengeluaran air ditutup, air dibiarkan habis baik dalam bentuk menguap atau meresap sesuai dengan kadar tanah. Bila tanah menunjukkan gejala retak, masukkan kembali air setinggi 3-5 cm.
Kenapa demikian, sebab memberikan air secara terus menerus, itu kurang baik untuk padi.
Kedua dengan sistem basah kering (AWD), sistem AWD dipasang sebelum atau sesaat setelah tanam dan dibenamkan sedalam 20 cm. Tinggi AWD 16 cm di atas permukaan tanah
Setelah dipasang keluarkan tanah dari dalam pipa, Pengukuran dimulai pada 7-10. Tingkat level air dimonitor, bila tinggi air dalam pipa kurang dari 5 cm, lahan sawah segera diairi
Selanjutnya, sepekan sebelum panen usahakan padi atau padi dikeringkan. "Jika ini bisa dilaksanakan, insyaallah hasilnya akan melimpah dan hasilnya pun akan beda dengan hasil sebelumnya," Ungkapnya.
Diakuinya, sistem ini memang agak sulit diterapkan, apalagi masyarakat masih mengandalkan sistem lama atau peninggalan nenek moyang. Namun apabila ada kelompok tani yang menerapkannya sebagai percontohan, pihaknya yakin lambat laun, sistem ini pasti akan terpakai oleh masyarakat.
"Saya akui sistem ini memang sulit diimplementasikan, namun jika ada kelompok pertanian yang sudah mencobanya dan hasilnya bagus, saya yakin masyarakat pasti akan beralih ke sistem tanam ini," terangnya.
Sementara itu ketua PPL pertanian Desa Sukaraja Kecamatan Praya Timur Loteng Zainuddin mengaku, optimis program tanam padi sistem demplot perdana ini, InsyaAllah akan berhasil. "Melihat antusias dan kelancaran serta kekompakan para petani dan petugas, InsyaAllah tanam padi sistem demplot ini di daerah binaannya lancar dan sukses," Katanya.
Dijelaskan, lahan tanam padi sistem demplot ini, di daerah binaannya seluas kurang lebih 10 hektare. 10 hektare tersebut, tersebar di masing masing Kelompok tani. "Satu kelompok tani kita ambil satu hektare, dan jumlah koptan di Desa Sukaraja sebanyak 10 koptan," Terangnya.
Jika penanaman perdana dengan menggunakan sistem demplot berhasil, InsyaAllah ke depan itu akan dikembangkan dan mudah mudahan hasilnya melimpah. Sehingga indeks kesejahteraan masyarakat khususnya di daerah binaannya meningkat. (Ap)
0 Komentar