Loteng, (postkotantb.com) - Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Tengah (Loteng), sudah 10 kali mendapatkan WTP, namun itu tidak menjamin semua harus dibanggakan.

Pasalnya, kebutuhan yang paling urgen seperti sarana pendidikan, di Loteng masih banyak yang belum terurus.

Seperti bangunan SDN Bilebante Kecamatan Pringgarata yang ambruk, sampai saat ini belum juga terurus. Padahal bangunan SDN Bilebante ini, tahun 2018 sudah mulai dimakan rayap, ditambah lagi diterpa gempa, sehingga mengakibatkan sekolah tersebut tidak ditempati alias di kosongkan.

Kepala SDN Bilebante, H. Sudirman membenarkan, kalau bangunan sekolahnya sudah mulai lapuk sejak gempa 2018 silam. Sejumlah tembok sekolahnya retak akibat gempa yang mengguncang pulau Lombok waktu itu. Masalah ini kemudian sudah dilaporkan kepala sekolah terdahulunya, tapi belum ada respons dari pihak pemerintah.

Keretakan itu terus merembet hingga bangunan atasnya. Kayu bangunan atasnya yang mulai lapuk awalnya patah tapi belum sampai ambruk. Tapi lama kelamaan, bangunan sekolah itu akhirnya ambruk.

 ‘’Sudah empat bulan lebih kami tidak menempati ruangan yang ambruk ini,’’ tutur H Sudirman, Kamis (2/6/22).

Dia menyebutkan, bangunan yang ambruk ini adalah ruang belajar kelas II. Tetapi sejak bahan bangunan itu patah tahun 2021, pihaknya tidak berani menempati. Begitu pula dengan bangunan kelas III di sebelahnya, pihaknya sekolah juga sudah mengantisipasi untuk tidak ditempati.
Sebagai alternatif, pihak sekolah menggunakan ruang perpustakaan sementara untuk melangsungkan proses belajar mengajar.

Begitu pula memasuki jadwal ujian semester tahun ini, pihaknya harus menggunakan tempat alternatif.

‘’Sebenarnya kami butuh bantuan alat darurat semisal tenda,’’ katanya.

Soalnya, sambung Sudirman, agak sukar mendapatkan kucuran bantuan anggaran tahun ini. Mengingat masa pembahasan tahun anggaran sudah lewat, apalagi dari DAK. ‘’Kalau misalnya bantuan masih agak lama, mungkin kami bisa difasilitasi tenda darurat untuk belajar anak-anak,’’ harapnya.

Kabid SD Dinas Pendidikan Loteng, Makbul Ramen langsung turun melihat bangunan sekolah yang ambruk ini usai mendapatkan laporan dari masyarakat. Dalam kesempatan itu, Makbul mengaku masih menunggu juklak-juknis bangunan sekolah dari DAK tahun ini.

Akan tetapi, mengingat batas waktu pengajuan tahun ini maka ia tak begitu yakin bangunan sekolah akan bisa diperbaiki tahun ini.
Kecuali, sambung dia, ada anggaran DAU yang sifatnya mendesak. Baik kemungkinan sumber anggaran itu berasal dari pokok-pokok pikiran dewan maupun anggaran darurat lainnya.

‘’Kalau dari DAK tahun ini kami rasa agak sulit, karena masanya sudah lewat,’’ ujar Makbul.

Meski demikian, Makbul mengaku akan melihat langsung data sekolah itu, apakah sudah diajukan sebelum bulan Maret 2022 atau tidak. Jika sudah masuk, maka bisa saja sekolah itu menjadi prioritas. Tapi demikian, sekolah yang diusulkan biasanya rusak ringan dan sedang. Mengingat sekolah dengan rusak berat akan ditangani langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

 ‘’Nanti kita cek datanya. Kalau sudah masuk usulan, maka bisa saja sekolah ini kita jadikan prioritas,’’ ujarnya.

Sementara itiu, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Loteng Suhaimi yang dikonfirmasi mengaku akan segera berkoordinasi dengan internal komisi agar bisa dijadwalkan kunjungan ke sekolah itu. ‘’Nanti kami akan koordinasi dulu di Komisi IV untuk kita jadwalkan turun,’’ katanya. (Ap)