dr.Mamang (tengah) saat pimpin giat gotong royong bersama pimpinan dan pegawai RSUD, Sabtu (27/5/2023). FOTO:ITS/LALU M IRSYAD POSTKOTANTB.COM.COM BIRO LOTENG.
Lombok Tengah (postkotantb.com) - Gebrakan selogan "Beriuk Meriri" yang bermakna " Berbuat untuk kebajikan menuju rumah sakit indah, rapi, dan istimewa", rupanya bukan sekedar isapan jempol belaka.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya, dr. Mamang Bagiansah, Sp.PD, FINASIM benar-benar mengimplementasikannya di segala sendi. Baik dalam upaya menyempurnakan tata kelola menajemen, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Pemenuhan kelengkapan alkes, evaluasi pelayanan yang kontinuitas, tak terkecuali menjaga kebersihan lingkungan RS. Outputnya, bermuara pada orientasi peningkatan kepuasan pasien yang otomatis menggenjot pendapatan RS, berimplikasi kesejahteraan pegawai.
"Kami ingin tidak ada yang miss, hal-hal besar sampai sepele tidak boleh luput dari seksama, termasuk mulai galakkan kegiatan gotong royong didalam bahkan diluar areal RS setiap sabtu pekan ketiga, " Ucap dr.Mamang, sabtu (27/5/0223 ).
Dia juga berencana akan sandingkan dengan giat silaturahmi ke warga sekitar RS, rekan-rekan wartawan, LSM dan stekeholder lainnya untuk menyerap saran dan masukan pihak eksternal, sebagai bentuk ajakan kerja bersama dan kolaborasi semua elemen.
"Perubahan besar harus kita mulai dari diri sendiri, hari ini, dan dari yang kecil," imbuhnya.
Untuk mewujudkan itu, dr.Mamang, utamanya menggodok mental. Mental kinerja ataupun mental pelayanan disemua sisi dan sistem.Seperti contoh efisiensi operasional pada penggunaan obat atau BHP yang sebelumnya tidak terkontrol, sekarang jadi teratur.
Begitu pula di bagian administrasi terkait penggunaan kertas ngeprint, sampai kondisi fisik bangunan semisal ada atap bocor, tembok retak, pemborosan lampu menyala harus lah dicek setiap saat.
"Gestur raut wajah pegawai juga kami simak, apakah dia senyum atau cemberut dilihat pengunjung, kami siap menegur, karena itu tak luput menentukan kesan RS dimasyarakat," bebernya.
Bahkan, demi rubah mindset ia adakan pelatihan gandeng sanding institute. Agar dapat dipahami bekerja di RS adalah salah satu wadah pengabdian atau ladang amal tidak hanya motivasi cari penghasilan saja.
Sementara, item lain yang turut jadi prioritas kedepan. RSUD praya punya angan ingin sediakan segala kebutuhan pasien atau pengunjung terpenuhi di RS sesuai regulasi. Supaya tidak repot bawa keperluan dari rumah.
Contoh, ada tempat foto copy, air panas, sampai tempat menunggu atau menginap pengunjung nyaman. Bagi anak-anak juga ada wahana bermain, semua harus lengkap.
"Saya belajar banyak soal service exellent di Poltekpar, bila perlu layanan kita kayak hotel, supaya RS bukan tempat berobat saja melainkan tempat healing juga, pasien merasa senang bahagia, cepat sehat," harapnya.
Terpenting, dr.Mamang juga ingin kompleks gedung RS berdiri rata-rata empat lantai. Agar ruang inap bertambah banyak, sehingga tidak ada lagi ceritanya permasalahan kamar full saat rujukan pasien datang.
"Alhamdulillah, perlahan fasilitas kesehatan kami semakin terjamin, warga sudah bisa cuci darah disini, tangani batu ginjal atau prostat tidak perlu ke luar Daerah lagi," tegasnya.
Diharapkan, tagline "Beriuk Meriri" hasilkan kemajuan RSUD Praya, seluruh pegawai kompak dari atasan hingga bawahan satu suara, satu tindakan. Terintegrasi dan terkoneksi dengan baik. Segala kekurangan adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama.
Mensikapi, salah satu warga bernama Alwi jaya asal Desa Pelambik Prabarda yang merujuk ibunya sakit asam lambung, mengaku cukup puas atas pelayanan RSUD Praya. Meski sempat agak lama menunggu di ruang IGD untuk masuk ruang inap. Ia memaklumi hal itu karena ruangan full karena pasien membludak.
"Selama perawatan, ibu saya ditangani dengan baik, dan kondisi berangsur pulih," akunya.
Alwi beri masukan, khusus tempat menginap kalau bisa ada lokasi kolektif agak tertutup walaupun di luar gedung atau halaman. (Irs)



0Komentar