![]() |
| Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, saat melaksanakan peninjau Pabrik BSL bersama rombongan Selasa kemarin. |
Mataram (postkotantb.com)- Berdasarkan peninjauan Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, Selasa Kemarin, progres pembangunan Pabrik Block Solution Lombok (BSL) di Kawasan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB di Banyumulek, Lombok Barat, telah mencapai 90 persen.
Ini menjadi khabar baik bagi NTB. Karena keberadaan pabrik BSL, berdampak positif. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Julmansyah, melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pencemaran Lingkungan, Firmansyah menerangkan sejumlah kelebihan, jika pabrik tersebut mulai beroperasi.
Seperti peningkatan jumlah permintaan sampah plastik untuk dijadikan bahan baku. Tentu permintaan ini dapat mengurangi sampah di NTB. Per hari saja, pabrik BSF mampu mengolah hingga 3,7 Ton atau sekitar 70 persen sampah plastik.
"Itu sebelum proses pemilahan, pembersihan dan pengolahan. Setelah diolah menjadi biji plastik, banyaknya 3 ton. Itu yang dikirim ke Surabaya dan akan dibeli di sana," ujar Firman di ruangannya, Rabu (24/05).
Kata Firman, di Surabaya Pabrik BSF bekerjasama dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), menggunakan skema Business to Business.
Jenis plastik yang diolah sesuai dengan klasifikasinya Polypropylene (PP). Yakni botol transparan yang tidak jernih atau berwarna, serta lebih kuat dan lebih ringan. Selain mengurangi sampah plastik, beroperasinya pabrik BSF akan membuka peluang kerja bagi masyarakat.
"Masyarakat bisa membawa sampah plastik ke bank sampah yang terafiliasi dengan ADUPI. Bank sampah yang berafiliasi dengan asosiasi ini, otomatis akan punya pasar. Setelahnya akan dibawa untuk pengolahan jadi biji plastik di Pabrik BSF," bebernya.
Manfaat lainnya terhadap sosial masyarakat. Sebab bahan baku yang diolah menjadi bata plastik dan akan digunakan sebagai bahan untuk membangun sekolah, serta rumah korban gempa Lombok. Selanjutnya ada transfer teknologi dari Negara Firlandia ke NTB.
"Itu tidak ternilai harganya lah," imbuhnya.
Di sisi lain, beroperasinya Pabrik BSL, berpengaruh pula terhadap peningkatan progres Zero Waste. NTB, jumlah sampah plastik seluruh komposisi, sekitar 10 persen atau 260 ton. Dari jumlah itu, yang PP sekitar 20 persen atau 50 ton. Dari 3 ton per 50 hasilnya sekitar 6 persen pengurangan sampah plastik di NTB.
Ini ditambah lagi dengan aktifnya TPST. Kendati lokasi ini memang konsen terhadap ke sampah organik dan RDF, ada proses pilah sampah. Dimana sampah plastik yang sudah terpilah. Sehingga totalnya sekitar lebih dari 1 persen.
"Kalau bisa dibilang sih hasil ini lumayan untuk progres Zero Waste, . Karena totalnya sampai sekitar 7 persen dibanding tahun sebelumnya, hanya sekitar 2 persen. Jadi seharusnya progres Zero Waste lebih dari 60 persen. Kalau saat ini masih di angka 56 persen," jelasnya.(RIN)


0Komentar