Lombok Barat, (postkotantb.com) - "Saya menelpon saudara dan sahabat untuk menikmati keindahan view rinjani di pagi hari, menyaksikan bentangan sawah menghijau, pohon rindang dan burung berkicau, saya tak ingin menikmatinya sendiri" kata Pak Burhan, pemilik Kedai Bale Sipon Sedau kepada media ini pada Sabtu (06/12/2025).

"Pulang kerumah kakek" merupakan tag line yang diusung Pak Burhan dalam mengelola Kedai Bale Sipon. Tag line ini mencerminkan pelayanan yang diberikan. Pengunjung yang datang tidak dipandang sebagai tamu, melainkan keluarga. Keluarga yang dirindukan, disambut dengan rasa suka cinta. Persis seperti kakek yang menyambut kedatangan cucunya. "Saya senang bila yang berkunjung dalam satu kesempatan adalah satu kelompok atau satu keluarga seperti ini, sehingga saya bisa melayani dengan maksimal, yang datang pun benar-benar menikmati tempat ini dengan nyaman, seperti menikmati tempat sendiri". Papar Pak Burhan. 


Pak Burhan menerapkan konsep anti marketing. Ia tidak pernah mempromosikan bale sipon. Ia fokus pada pelayanan kepada setiap pengunjung. Ia memilih untuk tidak merekrut pegawai. Ia bersama istri dan anaknya lah yang menyiapkan semua keperluan pengunjung. 

Ia bertutur "Istri belanja kebutuhan ke pasar, saya memasak makanan yang dipesan dan anak saya mengantarkannya, jadi kami benar-benar ingin melayani sendiri, sehingga terbangun rasa kekeluargaan dengan setiap pengunjung". Alhasil, pengunjung yang merasa puas akan membagi pengalaman mereka kepada orang lain. Pengunjung lah yang mempromosikan kedai bale sipon". 


Mengelola lokasi dengan mempertahankan keaslian, apa adanya.Otentik. Inilah keunggulan yang dipertahankannya. Menyediakan fasilitas sederhana. Pada lahan 10 are, ia membangun sebuah rumah dengan teras yang terbuka menghadap rinjani. Pak burhan tidak ingin membuat ornamen ataupun bangunan secara berlebihan. 

Dari Pak Burhan kita belajar bagaimana membangun dan mengelola pariwisata secara mandiri. Para pengambil kebijakan ada baiknya menimba spirit dan pengalaman Pak Burhan. Orientasi pengembangan pariwisata tidak hanya mendatangkan investor luar. Potensi yang ada di masyarakat perlu ditumbuhkan, di semai dan difasilitasi sehingga berkembang. 


Masyarakat sebagai subyek jasa usaha wisata tidak hanya menjadi wacana dalam forum diskusi, seminar dan rapat. Kenyataan keberpihakan dan semangat itu akan terlihat dalam kebijakan, program dan alokasi anggaran yang disahkan pemerintah (nata).