Laporan Syaiful Marjan wartawan postkotantb Biro Sumbawa


Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Kepala SDN 11 Sumbawa Besar, Ishaq, S.Pd, menyampaikan, bahwa sekolah yang dipimpinnya memiliki tujuh program unggulan pembentukan karakter anak sebagai fondasi utama pendidikan. Program ini menekankan nilai adab, sopan santun, dan etika, agar menjadi dasar kuat bagi peserta didik dalam bersosialisasi dan menjalani kehidupan bermasyarakat di masa depan.

Menurut Ishaq, pembentukan karakter harus didahulukan sebelum penguatan kompetensi akademik. Hal ini dinilai penting mengingat tantangan era media sosial dan generasi Z yang semakin memengaruhi anak-anak usia sekolah dasar dan berpotensi menurunkan nilai-nilai karakter apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Karena itu, sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Peran orang tua sangat penting, baik di rumah maupun di lingkungan, agar pembinaan karakter anak berjalan searah dengan apa yang kami lakukan di sekolah,” ujarnya.
Terkait kurikulum, SDN 11 Sumbawa Besar mengacu pada kebijakan pemerintah pusat yang telah menetapkan rambu-rambu pembelajaran secara terintegrasi dan seragam. 


Penekanannya berada pada penguatan karakter dan digitalisasi, yang diterapkan melalui tujuh kebiasaan baik, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, datang ke sekolah, belajar, mengonsumsi makanan bergizi, hidup bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Kebiasaan ini terus digalakkan karena menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.

Saat ini, SDN 11 Sumbawa Besar memiliki 11 orang guru, termasuk dua guru agama Islam, guru agama Hindu, dua guru PJOK, serta kepala sekolah. Dengan jumlah 387 siswa, sekolah ini tergolong sekolah gemuk di Kabupaten Sumbawa, namun tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran.

Keunikan SDN 11 Sumbawa Besar terletak pada keberagaman latar belakang peserta didik dan orang tua, yang mencerminkan kemajemukan Indonesia. Terdapat empat agama yang dianut siswa, yakni Islam, Hindu, Protestan, dan Katolik. Dalam pelaksanaan pendidikan agama, sekolah memberikan ruang sesuai keyakinan masing-masing. 


Siswa Muslim belajar di kelas, siswa Hindu di ruang khusus, sementara siswa Kristen mengikuti pembelajaran di gereja pada hari tertentu karena guru agamanya berasal dari luar sekolah.
“Pada hari-hari besar keagamaan, kami memberikan ruang dan waktu, bahkan meliburkan siswa sesuai perayaan agama masing-masing. Nilai toleransi ini kami terapkan secara nyata agar anak-anak terbiasa hidup rukun sejak dini,” jelas Ishaq.

Meski demikian, pihak sekolah juga menghadapi tantangan terkait penggunaan gawai yang berlebihan di kalangan siswa. Untuk itu, sekolah bersama orang tua sepakat membatasi penggunaan handphone maksimal dua jam per hari. Sekolah juga memberikan tugas rumah yang dapat diakses melalui gawai dengan pengawasan orang tua.


Selain aspek pembelajaran, Ishaq turut menyampaikan harapan adanya perhatian terhadap kondisi bangunan sekolah yang telah berdiri sejak 1975. Dengan jumlah siswa yang besar, kapasitas ruang kelas serta sarana dan prasarana dinilai belum memadai. 

Pihak sekolah telah mengajukan permohonan renovasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan aman.
“Di tengah keterbatasan yang ada, kami tetap berkomitmen memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak,” pungkasnya. (Jhey)