Sumbawa Besar, (postkotantb.com) — Transformasi pendidikan berbasis lingkungan kian menguat di tingkat satuan pendidikan. Komitmen itu ditunjukkan SDN 1 Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, NTB, yang kini menjadi satu-satunya pilot project Sekolah Hijau dalam program pendampingan Lingkara.
Kepala SDN 1 Penyaring, Eka Laelani, S.Pd.SD., M.M.Inov., menegaskan bahwa pihaknya terus membangun budaya peduli lingkungan melalui program berkelanjutan yang melibatkan seluruh stakeholder sekolah.
“Pendampingan dari LINGKARA melalui Program Eschalator dan Sekolah Hijau menjadi penguat bagi kami dalam mengembangkan praktik ramah lingkungan di sekolah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, sekolah mengintegrasikan pengelolaan sampah, penghijauan, serta edukasi lingkungan ke dalam proses pembelajaran dan aktivitas harian siswa.
Tak hanya berdampak di tingkat lokal, program ini juga terhubung dengan inisiatif global melalui FOLU Net Sink 2030. LINGKARA sendiri tercatat sebagai penerima manfaat dalam skema FOLU Goes to School yang berfokus pada pengelolaan sampah, sebagai bagian dari dukungan pemerintah Norwegia.
Kepercayaan sebagai pilot project menjadikan SDN 1 Penyaring sebagai model percontohan dalam penerapan pengelolaan sampah berbasis sekolah, pembiasaan perilaku hidup bersih, serta penguatan karakter peserta didik yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Langkah ini bukan hanya berdampak bagi lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan alam secara lebih luas,” jelas Eka.
Ia menambahkan, lingkungan sekolah memiliki fungsi strategis sebagai ruang hijau, wahana kreativitas siswa, serta tempat pengembangan bakat dan minat yang mendukung penguatan karakter.
“Karena itu, upaya menjaga dan merawat lingkungan sekolah harus terus dipertahankan dan ditingkatkan,” pungkasnya.
Pewarta: Hrmn/Jhey


0Komentar