Sumbawa Barat, (postkotantb.com)  - Demplot Kopi Rarak Ronges di Kecamatan Brang Ene disiapkan menjadi sentra pembelajaran dan pengembangan petani kopi di Kabupaten Sumbawa Barat, Jum'at (01/05/2026). Kawasan ini diposisikan bukan hanya sebagai lahan budidaya, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat kemampuan petani dari sisi hulu, mulai dari teknik tanam, pendampingan, hingga pengelolaan hasil.

Dalam kunjungan Bank Indonesia ke Kabupaten Sumbawa Barat, potensi kawasan ini kembali mendapat perhatian karena dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui sinergi lintas pihak. “Ini bukan hanya soal produksi, tapi bagaimana kopi Rarak bisa dikenal lebih luas, bahkan mendunia,” menjadi penekanan dalam dialog tersebut.

Secara teknis, pengembangan demplot ini memang membutuhkan proses yang panjang. Tanaman kopi diperkirakan baru bisa dipanen setelah sekitar tiga tahun, sementara pembinaan yang berjalan saat ini disebut telah dimulai sejak bulan November. Karena itu, demplot ini dipahami bukan sekadar proyek tanam, melainkan model pembelajaran berkelanjutan bagi petani kopi.


Kawasan Rarak sendiri dinilai punya modal geografis yang cukup kuat, karena berada di ketinggian sekitar 752 mdpl dan cocok untuk pengembangan kopi robusta. Selain itu, ketersediaan lahan yang disebut mencapai sekitar 300 hektare menjadi ruang penting bagi perluasan pengembangan di masa mendatang. Dukungan bibit dari Malabar, penguatan kelompok, serta pendampingan teknis menjadi bagian dari penguatan dari hulu.

Agar ekonomi petani tetap berjalan selama masa tunggu panen, diterapkan pula pola tumpang sari dengan jagung, kemiri, vanili, dan kakao. Pendekatan ini penting untuk menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat sekaligus memanfaatkan lahan secara lebih produktif tanpa bergantung pada satu komoditas saja.


Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov, perwakilan Bank Indonesia Arya, perwakilan AMNT Ilyas Yamin dan Dimas Purnama, wirausah unggulan Indonesia dari KSB Jauhari, serta kelompok petani kopi Rarak Ronges turut hadir dan menjadi bagian dari dialog pengembangan ini. Kehadiran berbagai pihak tersebut menegaskan bahwa penguatan kopi Rarak memang sedang dibangun melalui kolaborasi, bukan kerja sendiri-sendiri.

Dengan target peningkatan produktivitas dari sekitar 500 kilogram per hektare menjadi 1,5 ton per hektare, Demplot Kopi Rarak Ronges diharapkan benar-benar tumbuh sebagai sentra pembelajaran yang memberi dampak nyata. Bukan hanya untuk hasil panen, tetapi juga untuk memperkuat petani, membangun kelompok baru, dan membentuk ekosistem kopi yang lebih mandiri di Sumbawa Barat. (Amry)