Lombok Barat, (postkotantb.com) – Kearifan lokal masyarakat Sasak kembali dihidupkan. Yayasan Pusaka Membangun NTB bersama Padepokan Lingsir menggelar _Selamatan Bendungan Meninting_ yang dirangkaikan dengan tradisi _Bubur Beaq_, _Mandiq Syafar_, serta santunan anak yatim dan lansia, Rabu (05/08/2026)
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Bagi warga dan penyelenggara, selamatan menjadi cara mengingatkan kembali bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.
Doa Bersama dan Penghidupan Tradisi Sasak
Acara yang berlangsung di kawasan Bendungan Meninting ini dihadiri Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti, Anggota DPRD Provinsi NTB TGH. Muzihir, unsur Forkopimda NTB dan Lombok Barat, Kapolsek Gunungsari, tokoh budaya Lalu Sajim Sastrawan, serta tokoh agama, adat dan masyarakat setempat.
Ketua Padepokan Lingsir, TGH. Lalu Sanusi, menjelaskan filosofi _Bubur Beaq_ yang menggunakan bubur putih dan bubur merah.
“Bubur putih dan bubur merah ini memiliki filosofi tentang asal-usul kehidupan manusia. Ini bagian dari adat dan nilai keagamaan masyarakat Sasak yang dahulu sangat kuat, namun kemudian mulai luntur dan jarang dilaksanakan,” jelasnya.
Menurutnya, filosofi itu juga mengingatkan pengorbanan seorang ibu: mulai dari air ketuban, darah, air mata, hingga air susu ibu. Semua adalah simbol betapa pentingnya air dalam kehidupan.
“Air adalah persoalan hidup dan mati. Tetapi sering kali manusia baru mengingat pentingnya air ketika air sudah sulit didapat. Karena itu masyarakat perlu terus diingatkan bahwa air harus dijaga dan dilestarikan,” kata TGH. Lalu Sanusi.
Ia juga mengutip ungkapan Al-ma'u afdhalus shadaqah — air adalah sedekah terbaik. Karena itu, Bendungan Meninting harus dipandang sebagai amanah.
“Melalui ritual seperti ini kita mengingatkan kembali kepada masyarakat yang mungkin lupa bahwa air adalah sumber kehidupan. Apalagi sekarang kita sudah memiliki wadah air yang begitu besar melalui Bendungan Meninting yang diharapkan dapat memberikan kehidupan dan kemakmuran bagi masyarakat,” ujarnya.
DPRD NTB: Kejar Infrastruktur Pendukung
Anggota DPRD Provinsi NTB TGH. Muzihir mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menekankan Bendungan Meninting yang telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto harus segera dilengkapi infrastruktur pendukung, terutama jaringan irigasi tersier.
“Bendungan ini sudah diresmikan. Tetapi saluran tersiernya harus segera dilaksanakan. Kami meminta pihak terkait, termasuk BWS, agar mengajukan anggaran untuk pembangunan jaringan pendukung sehingga bendungan ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat lingkar bendungan menjaga kelestarian hutan dan kawasan penyangga. Kerusakan lingkungan dinilai bisa mengancam keamanan bendungan saat musim hujan.
“Kalau bukan kita yang menjaga bendungan ini, siapa lagi? Karena itu kami meminta seluruh masyarakat, terutama masyarakat yang berada di lingkar bendungan, untuk bersama-sama menjaga lingkungan, hutan dan kawasan bendungan ini,” ujarnya.
TGH. Muzihir mendorong Bendungan Meninting dikembangkan tidak hanya sebagai sumber air dan pertanian, tetapi juga sebagai kawasan budaya dan pariwisata berbasis kelestarian lingkungan.
Padukan Tradisi dengan Kepedulian Sosial
Selain ritual adat, kegiatan juga diisi santunan untuk anak yatim piatu dan orang tua jompo. Menurut YPM NTB dan Padepokan Lingsir, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Dengan perpaduan tradisi, doa, budaya dan kepedulian, _Selamatan Bendungan Meninting_ diharapkan menjadi momentum memperkuat silaturahmi, menjaga kearifan lokal, meningkatkan kesadaran ekologis, serta menumbuhkan semangat gotong royong menjaga sumber daya air. (Ramli Jamak)





0Komentar