Lombok Utara, (postkotantb.com) — Banyak orang mengenal Maulid Adat Bayan hanya dari kemeriahan lomba Jung Bayan, Menutu, dan Bisok Menik. Padahal rangkaian tradisi sakral di Kecamatan Bayan jauh lebih panjang dan sarat makna spiritual.
Salah satu prosesi penting yang jarang disorot adalah Praja Maulid, yang menjadi pembuka dari seluruh rangkaian Maulid Adat Bayan.
1. Praja Maulid: Perjalanan Penuh Adab dan Tertib
Praja Maulid bukanlah arak-arakan biasa. Prosesi ini merupakan perjalanan khidmat yang dilakukan oleh trah kebangsawanan adat Bayan yang disebut Nyka Mantri.
Para peserta berjalan tertib mengenakan pakaian adat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan para penyebar agama Islam di Tanah Bayan.
"Praja Maulid dilaksanakan dengan penuh adab dan tertib. Ini bentuk bakti kita kepada leluhur," ucap beberapa toak lokak saat dikonfirmasi di lokasi acara pada Sabtu (29/08/2026).
2. Mengagek/Ngisin Ancak: Simbol Kebersamaan
Usai Praja Maulid, acara dilanjutkan dengan Mengagek yang oleh masyarakat adat Bayan disebut juga Ngisin Ancak.
Dalam tradisi ini warga bersama-sama mengisi ancak atau sesaji. Tujuannya sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan dan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
3. Meriap: Puncak di 7 Masjid Kuno
Puncak rangkaian Maulid Adat adalah Meriap yang dilaksanakan di dalam masjid kuno. Di Kecamatan Bayan terdapat 7 masjid kuno yang menjadi tempat pelaksanaan Meriap, yaitu:
1. Masjid Kuno Barung Birak, Desa Sambik Elen
2. Masjid Kuno Desa Bayan
3. Masjid Kuno Desa Anyar
4. Masjid Kuno Desa Sukadana
5. Masjid Kuno Batu Gembung, dikenal masyarakat adat sebagai Desa Batu Gembung
6. Masjid Kuno Sembagek
7. Masjid Kuno Semokan
Dalam prosesi Meriap, masing-masing masjid "diduduki" oleh pemangku adat dan agama. Hadir di antaranya Penghulu Masjid, Ketip Lebe, Mudim, Mak Lokak, Mangku, Pembekel, Kiyai Toak Lokak, serta seluruh masyarakat adat.
4. Menyembek: Penutup Rangkaian
Setelah Meriap selesai, acara ditutup dengan prosesi Kiyai Toak Lokak bersalaman dan menyembek kepada seluruh hadirin.
Menyembek menjadi simbol akhir dari rangkaian Maulid Adat. Setelah prosesi ini, masyarakat adat kembali ke rumah masing-masing.
Maulid Adat Bayan membuktikan bahwa nilai Islam, adat, dan kebangsawanan di Bayan terus hidup berdampingan.
Bukan sekadar pesta rakyat, melainkan juga perjalanan spiritual, pengingat sejarah, dan penjagaan jati diri masyarakat Bayan yang diwariskan turun-temurun.
Pewarta: Sabdanom


0Komentar