Lombok Utara, (postkotantb.com)  - Menjelang peringatan Maulid Adat, masyarakat adat Bayan di Lombok Utara kembali menghidupkan tradisi turun-temurun menutu. Ritual menumbuk padi secara gotong royong ini menjadi salah satu rangkaian penting sebelum puncak acara keagamaan di Desa Bayan.

Ritual menutu adalah proses menumbuk padi menggunakan lesung dan alu kayu untuk menghasilkan beras yang nantinya digunakan dalam upacara Maulid Adat. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama di balai adat dan sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat adat Bayan, menutu memiliki makna lebih dari sekadar menyiapkan bahan makanan.

Simbol Kebersamaan dan Syukur  

Dalam prosesnya, laki-laki bertugas menumbuk padi sementara perempuan membersihkan dan menampi. Semua dikerjakan bersama. Padi yang digunakan pun khusus padi lokal dari ladang warga. Masyarakat meyakini beras hasil menutu lebih berkah untuk hidangan selamatan Maulid.

"Selama adat ini kita jaga, maka keberkahan dan persatuan warga juga akan tetap terjaga," ujar salah satu tokoh adat Bayan pada Jumat (28/08/2026).

Warisan untuk Generasi Muda  

Melalui menutu, nilai-nilai adat dan kerja sama antargenerasi terus diwariskan. Anak-anak muda Bayan juga diajak ikut serta agar tidak melupakan cara leluhur mengolah pangan.

Persiapan Menuju Maulid Adat 

Maulid Adat di Bayan merupakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas dengan budaya lokal Sasak Bayan. Beberapa hari sebelum hari H, warga sibuk menyiapkan:
- Beras hasil menutu untuk nasi dan jajan adat
- Perlengkapan upacara di Masjid Kuno Bayan  
- Hidangan tradisional yang dibagikan ke seluruh warga

Ritual menutu biasanya diiringi doa dan salawat bersama.

Di tengah modernisasi, tradisi seperti ini menjadi bukti kuatnya masyarakat adat Bayan dalam memegang identitas budaya dan spiritualnya. (Sab/MAJ)