Inovasi TRC Ambulans berbasis Puskesmas capai 28.672 layanan. Anggaran lebih efisien, manfaat makin nyata
Jakarta, (postkotantb.com) — Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, memaparkan strategi transformasi pelayanan kesehatan daerah dalam Seminar, Workshop & Health Technology Expo “Inovasi Layanan Fasilitas Kesehatan Modern Indonesia 2026” yang digelar Perhimpunan Kolaborasi Kesehatan Nasional (PKKN) di Hotel Harris FX Sudirman, Jakarta, Jumat (5/9/2026).
Dalam forum tersebut Bupati mengangkat tema “Transformasi Pelayanan Kesehatan Daerah – KSB Maju: Maju Kesehatan”. Ia menekankan bahwa kondisi geografis Sumbawa Barat yang luas dan tersebar menuntut pendekatan layanan yang tidak hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan.
“Layanan harus mampu menjangkau, merespons, dan mengintegrasikan pelayanan hingga ke masyarakat,” ujar Bupati.
Kartu KSB Maju Jadi Pintu Layanan Berbasis KK
Menurut Bupati, Kartu Sumbawa Barat Maju menjadi pintu utama kebijakan pelayanan langsung berbasis kepala keluarga. "Maju Kesehatan" ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh layanan prioritas yang terintegrasi dengan perencanaan, keuangan, data, dan teknologi informasi.
Salah satu inovasi yang paling disorot peserta adalah *Tim Reaksi Cepat (TRC) Ambulans berbasis Puskesmas*. Layanan ini mengubah paradigma dari "pasien datang ke fasilitas" menjadi "tenaga kesehatan yang datang ke rumah".
TRC Ambulans melibatkan dokter, perawat/bidan, tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan, operator, dan pengemudi. Jaringannya mencakup seluruh Puskesmas di KSB, termasuk ambulans rujukan gratis ke luar daerah dan bantuan biaya pendamping untuk rawat inap.
Hingga 31 Agustus 2026, data Pemkab mencatat TRC Ambulans telah melayani 28.672 kunjungan di seluruh Puskesmas Kabupaten Sumbawa Barat.
Anggaran Lebih Efisien, Belanja Kesehatan Justru Naik
Menjawab pertanyaan peserta soal kebutuhan anggaran, Bupati merinci:
- Anggaran Maju Kesehatan 2026: Rp9,48 miliar, turun dari Rp13,61 miliar di 2025
- Total belanja kesehatan daerah 2026: Rp266,82 miliar, naik dari Rp251,11 miliar di 2025
- Proporsi terhadap total belanja daerah: turun dari 0,61% di 2025 menjadi 0,42% di 2026
“Ini menunjukkan adanya pengendalian dan efisiensi. Maju Kesehatan tetap prioritas, tapi tidak menekan ruang fiskal untuk pembiayaan kesehatan lainnya,” jelas Bupati.
Ia menegaskan ukuran keberhasilan bukan dari besarnya anggaran, melainkan dari manfaat yang dirasakan masyarakat dengan penggunaan sumber daya yang efektif.
Efisiensi dilakukan lewat integrasi program, data, pelayanan, dan sumber daya. “Efisiensi bukan berarti mengurangi pelayanan, tetapi memastikan anggaran menghasilkan dampak yang lebih besar,” tambahnya.
Dapat Apresiasi dari Dinkes Jabar dan PKKN
Pendekatan KSB mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi, MMRS.
“Saya salut terhadap kebijakan Bapak Bupati di Kabupaten Sumbawa Barat. Suatu pendekatan yang cukup signifikan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, yang menyentuh langsung kepada masyarakat dengan basis kepala keluarga,” ungkapnya.
Apresiasi serupa datang dari anggota PKKN yang menyoroti perhatian Bupati kepada tenaga kesehatan, termasuk pemberian insentif khusus saat turun ke lapangan.
“Saya salut, Pak. Insyaallah ini akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah kami untuk dapat diterapkan,” ujarnya.
Penguatan Sistem Lewat SIAGA PRIMA KSB
Bupati juga memperkenalkan SIAGA PRIMA KSB sebagai penguat sistem yang sudah berjalan. Program ini bukan pengganti Maju Kesehatan, melainkan mengintegrasikan data, satu dashboard, TRC satu komando, kunjungan rumah, pemeriksaan kesehatan, dan penguatan rujukan.
“Transformasi kesehatan pada akhirnya harus dapat dilihat dari manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Bupati.
Dengan pendekatan tersebut, Pemkab Sumbawa Barat terus mendorong KSB Maju Luar Biasa menuju transformasi kesejahteraan, dengan memastikan inovasi kebijakan, pemanfaatan teknologi, dan pengelolaan anggaran bermuara pada satu tujuan: pelayanan yang semakin dekat dan manfaat yang semakin nyata. (Amry)





0Komentar