Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H.Sarip Hidayat, SKM., MPH. Foto Istimewa/Bang Jhey/postkotantb.com




Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Penanganan stunting di Kabupaten Sumbawa tidak bisa hanya dibebankan ke Dinas Kesehatan. Diperlukan kerja bareng semua sektor dengan pendekatan konvergensi, ditambah dukungan anggaran yang memadai.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, SKM., MPH, saat memaparkan perkembangan penanganan stunting di daerah.

“Pengendalian stunting ini membutuhkan penanganan secara konvergensi, yaitu penanganannya secara bersama-sama dari semua pihak,” jelas Sarip.

Intervensi Spesifik dan Sensitif Jalan Bareng

Menurut Sarip, sesuai kerangka kebijakan nasional ada dua pendekatan utama: intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Sektor kesehatan fokus pada intervensi spesifik. Sementara intervensi sensitif butuh dukungan sektor lain yang berkaitan dengan sosial, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Intervensi dimulai sejak remaja dan berlanjut sampai periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan atau HPK.

- Usia remaja: pemberian tablet tambah darah
- Usia produktif dan hamil: pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali, dengan 2 kali oleh dokter. Ibu hamil KEK dapat makanan tambahan dan pemantauan rutin
- *Pasca persalinan*: persalinan di faskes, Inisiasi Menyusu Dini, ASI eksklusif 6 bulan, imunisasi dasar lengkap, dan pemenuhan gizi sesuai usia

“Anak terutama pada usia 1.000 hari pertama kehidupan, sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun, harus betul-betul diperhatikan asupan nutrisinya,” ujarnya.

Temuan Balita Stunting Naik di 2026

Data Dinas Kesehatan Sumbawa menunjukkan peningkatan kasus. 
Pada Triwulan I 2026 tercatat 3.225 balita stunting. Angka itu naik menjadi 3.338 balita di Triwulan II, bertambah 113 balita.

Pengukuran dilakukan kader bersama tenaga kesehatan di lapangan. Kecamatan Sumbawa termasuk wilayah dengan temuan cukup tinggi.

“Peningkatan tersebut harus menjadi perhatian bersama dan menjadi bahan evaluasi seluruh pihak. Persoalan stunting merupakan masalah yang kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan lintas sektor,” kata Sarip.

Faktor Lingkungan dan Ekonomi Keluarga Jadi Kunci

Intervensi sensitif mencakup akses air bersih, jamban layak, jaminan kesehatan, dan dukungan sosial. Kondisi ekonomi keluarga juga berpengaruh pada pemenuhan pangan dan gizi anak.

Karena itu, perhatian pada tumbuh kembang harus dimulai sejak hamil hingga anak usia 2 tahun.

Pemda Sumbawa Siapkan Anggaran Penanganan

Pemerintah Kabupaten Sumbawa sudah mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan balita yang sudah terlanjur stunting.

Sarip menyebut, biaya penanganan satu balita bisa mencapai sekitar Rp4,1 juta. Dana itu untuk pemeriksaan, konsultasi dokter spesialis anak, dan pemenuhan pangan olahan khusus sesuai kondisi medis anak.

“Pemerintah daerah cukup serius menangani ini. Saat ini kita sudah diberikan dukungan anggaran untuk penanganan balita yang sudah stunting,” ungkapnya.

Ia menegaskan anggaran harus diiringi penguatan intervensi di lapangan. Dengan keterlibatan semua sektor, pencegahan dan penanganan stunting diharapkan lebih terarah dan berkelanjutan.

Peningkatan kasus ini, kata Sarip, jadi pengingat bahwa upaya harus diperkuat mulai dari pencegahan di usia remaja, kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, sampai perbaikan lingkungan dan ketahanan keluarga. (Jhey)