Lombok Utara, (postkotantb.com) – Semangat melestarikan warisan leluhur kembali menyala di Bayan. Masyarakat Adat Bayan, Kabupaten Lombok Utara, menggelar pertunjukan _Tarian Suling Dewa_ pada akhir pekan lalu, 30 Agustus 2026, sebagai upaya menghidupkan kembali budaya lokal yang sempat hampir punah.

Pertunjukan sakral itu digelar di area adat Bayan dan disaksikan ratusan warga, pemuda, hingga wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan keunikan budaya Sasak Bayan.

Tarian Syukur yang Hampir Dilupakan

Tarian Suling Dewa adalah tarian tradisional masyarakat Bayan yang dipercaya sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada leluhur. 

Gerakan lembut para penari yang diiringi alunan suling bambu khas Bayan menciptakan suasana khidmat dan magis di tengah areal adat.

Menurut tokoh adat setempat, tarian ini dulunya hanya ditampilkan pada upacara-upacara besar seperti _Mulud_ dan Bau Nyale. Namun seiring regenerasi dan masuknya pengaruh modernisasi, Tarian Suling Dewa sempat jarang dipentaskan.

Dukungan Tokoh dan Peran Pemuda


Kegiatan pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat. Bapak Kertamalip, Mantan Kepala Desa Karang Bajo yang hadir dalam acara tersebut, menegaskan pentingnya menjaga budaya sebagai jati diri.

"Saya sangat mengapresiasi langkah Masyarakat Adat Bayan. Tarian Suling Dewa ini bukan hanya tarian, tapi cerminan nilai spiritual dan kebersamaan orang Bayan. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Anak-anak muda harus terus dilibatkan agar budaya ini tidak punah," ungkap Kertamalip Kamis (03/09/2026).

Kebangkitan tarian ini juga tidak lepas dari peran pemuda-pemudi adat Bayan. Selama 3 bulan terakhir mereka rutin berlatih di bawah bimbingan para tetua adat dan seniman lokal.

Kepala Desa Bayan turut mengapresiasi. Ia menyebut pelestarian budaya seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus menguatkan jati diri masyarakat.

Akan Dijadikan Agenda Rutin

Usai pementasan ini, Masyarakat Adat Bayan berencana menjadikan Tarian Suling Dewa sebagai agenda rutin setiap bulan. Rencananya tarian ini juga akan dimasukkan ke dalam ekstrakurikuler di sekolah-sekolah di wilayah Bayan.


Dengan bangkitnya kembali Tarian Suling Dewa, masyarakat adat berharap nilai-nilai luhur, gotong royong, dan kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.

"Lestarikan budaya kita, karena di sanalah jati diri kita berada," tutup tokoh pemuda adat Bayan.

Pewarta: Sabdanom