Dari Bayan ke Mataram, 3 jam ditempuh demi jadi "malaikat tanpa sayap" bagi pasien
Mataram, (postkotantb.com) - Di tengah hiruk pikuk Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, ada satu wajah yang sudah hafal bagi pasien dan keluarga. Bukan dokter, bukan perawat. Tapi kehadirannya sering jadi penenang.
Ia adalah seorang pemuda asal Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Sudah bertahun-tahun ia menjadikan RSUD Provinsi NTB seperti rumah kedua. Tanpa digaji dan tanpa diminta, ia hadir untuk menemani, mengantar, dan menguatkan siapa saja yang sedang berjuang melawan sakit.
Datang dari Bayan, Hati untuk Semua Orang
Jarak Bayan ke Mataram sekitar 3 jam perjalanan. Tapi jarak itu tak pernah jadi alasan.
Setiap ada yang butuh ditemani berobat, diantar ke poli, diambilkan obat, atau sekadar butuh teman ngobrol agar tidak cemas, ia selalu ada.
"Yang penting orangnya terbantu. Mau dari Lombok Utara, Sumbawa, Bima, saya temani semua. Kita sama-sama manusia, sama-sama butuh dikuatkan," ujarnya sambil tersenyum, Jumat (11/09/2026).
Yang ia lakukan lebih dari sekadar mengantar. Ia menjadi pendengar, penyemangat, dan penghubung.
Saat keluarga panik karena bingung prosedur rumah sakit, ia jelaskan dengan sabar. Saat pasien drop dan putus asa, ia hibur dengan cerita dan doa. Saat ada yang tidak punya ongkos pulang, ia bantu carikan solusi.
Bagi keluarga pasien, kehadirannya seperti oase.
"Alhamdulillah ada abang ini. Kalau tidak ada beliau, kami bingung mau tanya ke siapa," kata seorang ibu yang sedang menunggu anaknya dirawat.
Dorong Bantuan untuk Pasien Lewat Dinsos
Selain mendampingi, pemuda ini juga aktif berkoordinasi dengan pihak terkait. Terbaru, ia akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Lombok Utara.
Tujuannya agar ada perhatian untuk salah satu pasien atas nama Raden Galih yang berasal dari Dusun Sidutan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.
"Semoga lewat koordinasi ini, ada perhatian lebih dari pemerintah untuk saudara kita yang sedang berjuang melawan sakit. Biar bebannya sedikit ringan," harapnya.
"Malaikat Tanpa Sayap dari Bayan"
Yang membuat banyak orang kagum: ia melakukan ini terus-menerus, tanpa pilih kasih, dan tanpa pernah mengeluh lelah.
Baginya, membantu orang sakit adalah bentuk ibadah.
"Kalau kita bisa meringankan beban orang lain, kenapa tidak? Rezeki, umur, semua titipan. Kita pakai untuk hal baik saja," katanya.
Aksi sederhananya kini mulai dikenal di media sosial. Banyak netizen menyebutnya "Malaikat Tanpa Sayap dari Bayan".
Ia berharap akan ada lebih banyak anak muda yang tergerak melakukan hal sama. Karena rumah sakit bukan hanya tempat mengobati penyakit, tapi juga tempat orang butuh dikuatkan mentalnya.
"Pasien sembuh itu bukan cuma karena obat. Tapi juga karena ada yang peduli dan menemani," tutupnya.
Semoga semangat pemuda dari Bayan ini jadi pengingat kita semua: kebaikan sekecil apapun, kalau dilakukan terus-menerus, akan jadi luar biasa. Dan semoga bantuan untuk Raden Galih dari Dusun Sidutan segera terealisasi. (Red)


0Komentar