Breaking News

Pecah Telur, Dua Warga Lombok Barat Positif Covid-19

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid
Lombok Barat (postkotantb.com)- Lombok Barat sebelumnya masuk zona hijau terhadap Covid-19, akhirnya pecah telur. Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid saat melaksanakan kegiatan himbauan keliling masjid, di Masjid Jami’ Asasasuttaqwa Desa Rumak Kecamatan Kediri, Kamis (9/4).

“Saya mendapat WA rilis resmi dari Pak Gubernur, di Lombok Barat sudah ada yang positif 2 orang, satu di Kecamatan Narmada dan satu di Kecamatan Lingsar berdasarkan test Swab,” kata Fauzan.

Untuk itu, Fauzan meminta kepada seluruh masyarakat Lombok Barat agar senantiasa waspada, dengan menjalankan protokuler pencegahan Covid 19 secara ketat dan mandiri.

“Tetap berdiam diri di rumah, keluar dari rumah kalau terpaksa. Itu pun harus menggunakan masker dan menghindari kerumunan banyak orang. Rajin-rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, serta tetap menjaga jarak, bahkan menghindari kontak langsung dengan siapapun yang kita tahu baru pulang dari daerah yang terpapar,” ujar Fauzan.

Berdasarkan rilis resmi yang ditanda tangani Gubernur NTB Dr. Zulkifliemansyah, pasien dengan kondisi positif Covid-19 adalah pasien Nomor 13 atas nama LAB (laki-laki 54 Tahun), yang berasal dari Kecamatan Narmada. Pasien ini disebutkan memiliki kontak langsung dengan orang yang di  daerah terjangkit virus Corona, dan pasien Nomor 19 atas nama AS (laki-laki 47 Tahun) asal Kecamatan Lingsar yang diketahui memiliki riwayat pernah berkunjung ke Sulawesi, Kini keduanya harus mengalami isolasi perawatan di RS Awet Muda Narmada.

Menurut Kepala Bidang P3KL Dokter H. Ahmad Taufiq Fatoni saat dihubungi via telpon mengatakan, tenaga kesehatan harus melakukan tracking (penelusuran, red) terhadap siapa saja yang pernah kontak langsung dengan dua pasien tersebut.

“Sekarang Dinas Kesehatan dan Puskesmas sedang melakukan kontak tracking di wilayah kerja Puskesmas Narmada dan Puskesmas Sigerongan. Terutama keluarga dekat yang serumah. Kita akan rapid test terlebih dahulu,” terang Dokter Toni, Jum’at (10/4).

Sementara itu dari rilis Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, sudah ada 2 orang pasien yang dipastikan positif terjangkit Covid 19. Dua orang tersebut adalah bagian dari 7 orang Pasien Dalam Pengawasan, di mana dua orang telah selesai dalam pengawasan, namun satu orang telah meninggal dunia dua hari yang lalu.
Seorang yang meninggal dunia ini telah dibuktikan dengan test Swab, dan hasilnya negatif mengidap Covid 19.

Terkait dengan dua pasien positif tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Hj. Ambaryati menjelaskan bahwa kondisi keduanya baik-baik saja. Namun tetap diisolasi dan dalam 2 atau 3 hari nanti dilakukan test Swab untuk kedua kalinya. Sedangkan seluruh keluarga yang kontak dengan kedua pasien tersebut telah di-rapid test juga.
“Kedua-duanya sehat-sehat saja, tapi harus tetap diisolasi. Dalam 2 atau 3 hari nanti akan ditest Swab lagi yang kedua kalinya. Kalau hasilnya negative, boleh pulang. Tapi kalau hasilnya positif, masih harus diisolasi lagi dan menjalani pengobatan. Pokoknya sampai hasil negative baru boleh pulang,” terang Ambaryati.

Selain mereka, dalam rilis Dinas Kesehatan itu terdapat 543 Orang Dalam Pemantauan (ODP), namun sebanyak 370 di antaranya telah selesai dalam pemantauan.

Menurut data ODP tersebut, dari sepuluh kecamatan di Lombok Barat terbanyak ODP-nya adalah Kecamatan Sekotong dengan 99 ODP. Kemudian disusul Kecamatan Labuapi sebanyak 88 ODP, Kecamatan Gunung Sari 72 ODP, Kecamatan Lingsar 69 ODP, Kecamatan Narmada 59 ODP, Kecamatan Kediri dengan 45 ODP, Kecamatan Batulayar dengan 33 ODP, Kecamatan Lembar 33 ODP, Kecamatan Gerung 30 ODP, dan Kecamatan Kuripan dengan 14 ODP.

Selain menghimpun PDP dan ODP, Dinas Kesehatan Lombok Barat menyebutkan sebanyak 1.724 Orang Tanpa Gejala. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah terpapar Covid 19 namun tidak memperlihatkan gejala-gejala umumnya orang yang mengidap Covid 19, seperti memiliki suhu tubuh di atas 38,5 derajat selsius. Dari sebanyak itu, 412 orang tanpa gejala ini telah bebas dari pemantauan.

Melihat angka-angka yang cenderung meningkat tersebut, Bupati Lombok Barat mengutarakan anjurannya untuk desa-desa yang memiliki karakter wilayah tertentu, bisa melakukan pembatasan sosial kewilayahan dengan lebih ketat.

“Mereka bisa berinisiatif memulai pembatasan jam atau waktu untuk aktivitas warganya. Bisa jadi pasar juga dibatasi jam praktik jual belinya, atau para pedagang kaki lima di jalan-jalan,” pintanya.

Fauzan menegaskan, desa dan kecamatan bisa mendiskusikan hal tersebut karena mereka yang paling tahu karakter wilayah dan masyarakatnya. (Eka)

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close