Pemkab Lotim Salurkan Bantuan Bibit Tembakau Untuk Petani

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, Marepudin
Lombok Timur (postkotantb.com)- Memasuki musim tanam tembakau tahun ini, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Lotim) akan memberikan bantuan bibit tembakau bagi para petani di Lotim. Meski tahun ini jumlah bantuan bibit terbilang minim bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, namun jumlah itu disesuaikan dengan luas area tanam dan daya beli perusahaan.

''Di tahun 2021 ini kita punya anggaran cuma untuk beli benih 900 gram untuk luas area tanam 12,5 hektare atau delapan kelompok tani,'' kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim Marepudin di ruangannya, Kamis (20/5).

Lanjutnya, bantuan bibit tembakau itupun hanya diperuntukkan untuk dua kecamatan saja yakni Kecamatan Pringgabaya dan Kecamatan Suela dengan rincian lima kelompok tani di Kecamatan Pringgabaya dan tiga kelompok tani di Kecamatan Suela. Adapun anggaran untuk pembelian bibit tembakau jenis Rajangan itu bersumber dari APBD II yang berjumlah Rp 15 juta.

Untuk bibit tembakau Virginia, pembagian bibitnya merata di seluruh kecamatan se-Lotim. Jumlahnya pun melebihi jumlah bibit tembakau Rajangan. Bantuan bibit seluruhnya telah disalurkan ke seluruh kelompok tani.

''Yang kami prioritaskan ialah para petani di wilayah selatan karena hasil panen tembakau di wilayah selatan lebih baik dibanding wilayah lain,''  jelasnya.

Anggaran pembelian bibit tembakau Virginia, kata dia, bersumber dari APBD I dan APBN. Selain bibit, bagi para petani yang menanam tembakau Virginia juga diberikan bantuan pupuk dan insektisida.

''Cuma itu dukungan dari pemerintah untuk peningkatan kualitas bahan baku tembakau,'' imbuhnya.

Sementara itu, akibat kenaikan cukai tembakau, dipastikan semua perusahaan akan mengurangi kuota pembelian tembakau tahun ini. Meskipun belum diketahui berapa jumlah yang akan dikurangi masing-masing perusahaan, dipastikan hal itu akan berdampak pula bagi para petani yang telah lama bermitra dengan perusahaan.

''Karena mereka mengurangi jumlah pembelian kuota, otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah area tanam dan jumlah petaninya,'' terangnya.

Terpisah, salah seorang petani asal Desa Dasan Baru, Kecamatan Sakra, Amaq Yanti mengatakan, tidak mempermasalahkan keputusan perusahaan mengurangi jumlah kuota pembeliannya. Bahkan, hal itu sudah dianggapnya biasa. Meski akan berdampak terhadap harga tembakau yang dihasilkan, ia akan tetap menanam tembakau sejumlah area seperti tahun sebelumnya.

''Keputusan perusahaan itu sudah lumrah. Dari dulu perusahaan tetap mengurangi jumlah kuota pembelian. Tapi kami tidak hanya menjual atau memasukkan ke satu perusahaan saja,'' ucapnya. (Iwan)