Mataram, (postkotantb.com) – Pameran dan Kontes Bonsai Tingkat Nasional yang digelar komunitas The Max 30 CM Mataram di kawasan Teras Udayana, Kota Mataram, mendapat sambutan luar biasa dari para pecinta bonsai. Event bertajuk Road to The Max International 2027 tersebut diikuti ratusan kontestan dari berbagai daerah di Indonesia dan diyakini menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif berbasis bonsai di NTB.

Ketua Panitia, Ir. Rizaluddin Akbar mengatakan hingga malam kedua pendaftaran jumlah peserta yang tercatat telah menembus angka 212 kontestan dari sedikitnya empat provinsi. Pendaftaran sendiri dijadwalkan ditutup pada Selasa malam pukul 24.00 Wita.


“Alhamdulillah, antusias peserta sangat tinggi. Jenis dan ukuran bonsai yang dipamerkan juga sangat beragam. Ini pertama kali kita menggelar event nasional dan menjadi penentu bagaimana perkembangan bonsai di NTB ke depan,” ujar Rizaluddin Akbar yang akrab disapa Bang Rizal, Selasa malam (19/05/2026).

Menurutnya, perkembangan komunitas bonsai di Pulau Lombok dan Sumbawa terus meningkat. Ia menilai bonsai bukan sekadar hobi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.

“Semakin hari pecinta dan petani bonsai terus bertambah. Dari sisi ekonomi ini sangat positif untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga di tengah situasi ekonomi yang tidak baik-baik saja,” jelasnya.


Event nasional ini merupakan kolaborasi antara komunitas bonsai NTB bersama Dinas Pariwisata Kota Mataram. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga diramaikan sekitar 20 stand UMKM yang menghadirkan berbagai produk lokal unggulan.

Rizaluddin menambahkan, event ini juga menjadi langkah awal menuju agenda yang lebih besar, yakni The Max International 2027. Karena itu pihaknya berharap Mataram dapat dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan bonsai nasional bahkan internasional.


“Harapan kami The Max Mataram tidak hanya dikenal di NTB, tapi juga nasional hingga internasional,” katanya.

Sementara itu, kontestan asal Lombok Timur, Hilmi mengungkapkan pihaknya membawa sebanyak 51 peserta dari berbagai kecamatan, khususnya Pringgabaya. Menurutnya, keikutsertaan mereka dilakukan secara mandiri tanpa sponsor.

“Kami datang secara swadaya. Semangat teman-teman luar biasa karena bonsai ini sangat menjanjikan dari sisi ekonomi,” ujarnya.

Hilmi mengatakan, komunitas bonsai di Lombok Timur terus berkembang hingga ke tingkat kecamatan melalui pembentukan ranting-ranting komunitas. Setelah event di Mataram, para pecinta bonsai Lotim bahkan berencana menggelar pameran dan kontes bonsai tingkat Pulau Lombok pada akhir tahun mendatang.

“Tujuannya supaya semakin banyak masyarakat mengenal bonsai. Tidak perlu lahan luas, yang penting ada kemauan dan keseriusan. Bonsai ini bisa menjadi peluang usaha baru,” katanya.

Sementara Ketua Dewan Juri, I Made Suka SH menjelaskan bahwa penilaian dalam kontes dilakukan secara profesional dan objektif dengan empat indikator utama, yakni gerak dasar, penampilan, keserasian, dan kematangan bonsai.


“Karena ini sifatnya kontes dan pameran, maka penilaian dilakukan secara objektif dan akuntabel. Kami mencari karya terbaik dari seluruh peserta,” tegasnya.

I Made Suka yang juga Presiden Direktur The Max 30 CM Indonesia menilai bonsai memiliki dampak besar terhadap sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Menurutnya, bonsai dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat karena tidak membutuhkan lahan luas dan bisa dikembangkan di pekarangan rumah.

“Bonsai ini bukan sekadar seni, tapi bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat dan UMKM. Penjualan bonsai di event sebelumnya bahkan ada yang tembus hingga Rp150 juta,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih besar terhadap perkembangan bonsai di NTB, baik melalui event rutin maupun dukungan fasilitas dan promosi. 


Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menghadirkan tiga juri nasional dari Bali, Jakarta, dan Bandung. Kehadiran para juri tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus memberikan pengakuan lebih luas terhadap karya bonsai para peserta NTB.

Event yang berlangsung 18–23 Mei 2026 ini diperkirakan akan terus dipadati pengunjung hingga penutupan, sekaligus menjadi bukti bahwa bonsai kini berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang menjanjikan di Nusa Tenggara Barat. (Aminuddin)