Nanang Nasiruddin tegaskan Melala bukan sekadar budaya, tapi simbol hubungan Tau Samawa dengan alam. DPRD Sumbawa siap dorong Perda untuk payung hukum kegiatan adat.
Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, S.AP., M.M.Inov., menegaskan komitmen menjaga tradisi Melala sebagai warisan Tau Samawa sekaligus mendorong pelestarian hutan. Hutan jadi sumber utama ramuan minyak Melala yang diwariskan turun-temurun.
Pernyataan itu disampaikan Nanang saat menghadiri Festival Melala menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah, Senin malam (15/6/2026) di Rumah Aspirasi Anggota DPR RI Dapil NTB I Pulau Sumbawa, H. Johan Rosihan, ST., MH.
Festival berlangsung meriah dengan ratusan warga, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga para sandro dari berbagai kecamatan. Prosesi pembuatan minyak Melala jadi sorotan utama acara.
*Melala = Identitas + Penjaga Alam*
Dalam sambutannya, Nanang menyebut Melala bukan sekadar tradisi.
“Melala adalah identitas budaya Tau Samawa yang punya nilai sejarah, kearifan lokal, dan hubungan kuat dengan alam. Karena itu, menjaga hutan berarti menjaga keberlangsungan tradisi leluhur,” ujarnya.
Ia menegaskan pelestarian budaya tak bisa dipisah dari kelestarian lingkungan. Semua bahan ramuan Melala berasal dari hutan, sehingga hutan lestari = tradisi lestari.
*Dorong Perda Budaya*
Sebagai dukungan nyata, Nanang menyatakan DPRD Sumbawa siap mendorong lahirnya Peraturan Daerah khusus budaya. Perda itu akan jadi payung hukum untuk pelaksanaan dan pengembangan kegiatan adat di Sumbawa.
“Regulasi ini diharapkan memberi kepastian dan dukungan agar kegiatan budaya tetap lestari dan jadi bagian penting pembangunan karakter masyarakat Sumbawa,” jelasnya.
*Sejalan dengan Sumbawa Hijau Lestari*
Penggagas Festival Melala, Anggota DPR RI H. Johan Rosihan, ST., MH., menyebut kegiatan ini untuk menjaga eksistensi budaya lokal dan memperkuat rasa bangga sebagai Tau Samawa.
Menurut Johan, tradisi Melala sejalan dengan semangat Sumbawa Hijau Lestari karena prosesnya memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan berkelanjutan.
Festival ditutup dengan penampilan seni budaya daerah. Momentum ini diharapkan mempererat silaturahmi warga sekaligus menguatkan komitmen menjaga warisan budaya, lingkungan, dan nilai luhur Tau Samawa di era modern.
Pewarta: Syaiful Marjan


0Komentar