Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Keindahan alam bahari Kabupaten Sumbawa kembali menunjukkan potensinya sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia. Wisata hiu paus di kawasan Perairan Teluk Saleh terus menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, seiring meningkatnya kesadaran berbagai pihak dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan.

Teluk Saleh yang dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi laut terbaik di Indonesia menjadi habitat alami hiu paus (Rhincodon typus), spesies ikan terbesar di dunia yang terkenal jinak dan ramah terhadap manusia. Keberadaan hiu paus yang dapat dijumpai hampir sepanjang tahun menjadikan kawasan ini sebagai magnet wisata bahari yang memiliki daya saing di tingkat internasional.


Berdasarkan hasil pengamatan berbagai tim konservasi, periode terbaik untuk menyaksikan kemunculan hiu paus berada pada rentang Juli hingga Desember. Pada waktu tersebut, wisatawan dapat menikmati pengalaman berenang, snorkeling, maupun mengamati hiu paus secara langsung di habitat alaminya dengan tetap mengedepankan prinsip wisata berkelanjutan.

Selain daya tarik hiu paus, kawasan Teluk Saleh juga dikelilingi gugusan pulau-pulau eksotis yang menawarkan panorama laut biru, pasir putih, dan keindahan bawah laut yang masih alami. Potensi inilah yang mendorong berbagai elemen masyarakat untuk terus berinovasi dalam mengembangkan sektor pariwisata bahari Sumbawa.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan wisata berkelanjutan.


Lembaga Tirta Lestari Bahari Samawa Mendunia (LTLB-SM) bersama Sangor Green Indonesia (SGI) dan Pokdarwis Sangor Eco Village melakukan survei lapangan ke sejumlah pulau kecil di sekitar kawasan Teluk Saleh pada Minggu (07/6/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan memetakan potensi kawasan yang akan dikembangkan menjadi bagian dari jaringan destinasi wisata bahari terpadu yang terhubung dengan wisata hiu paus Teluk Saleh.

Ketua LTLB-SM, Mustafa, didampingi Wakil Ketua Musa H.Ibrahim, menyampaikan bahwa pengembangan wisata bahari harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
Menurutnya, Desa Labuhan Sangor, Kecamatan Maronge, memiliki posisi strategis karena berada pada jalur yang dekat dengan kawasan hiu paus serta beberapa gili yang memiliki potensi wisata tinggi.
"Kolaborasi antara LTLB-SM, SGI dan Pokdarwis menjadi langkah awal untuk menghadirkan konsep wisata bahari yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar," ujar Mustafa.

Dalam survei tersebut, tim mengunjungi lima pulau potensial, yakni Gili Kondo, Gili Maja, Gili Mariam, Gili Dempu, dan Gili Tapan. Dari hasil pengamatan lapangan, Gili Mariam dan Gili Tapan dinilai layak menjadi lokasi persinggahan wisatawan setelah menikmati atraksi wisata hiu paus.
Kedua pulau tersebut akan dipersiapkan sebagai bagian dari paket wisata terpadu yang menawarkan pengalaman menikmati keindahan alam, rekreasi pantai, hingga wisata edukasi lingkungan.


Sementara itu, Musa H. Ibrahim menjelaskan bahwa Desa Labuhan Sangor direncanakan menjadi pusat layanan wisata atau trip resort bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Teluk Saleh. Untuk mendukung konsep tersebut, berbagai fasilitas penunjang akan dikembangkan secara bertahap.
Fasilitas yang direncanakan meliputi dermaga wisata, restoran, penginapan terpadu, pusat informasi wisata, hingga layanan transportasi laut dan darat yang terintegrasi dengan destinasi-destinasi unggulan di kawasan Teluk Saleh.

Selain itu, LTLB-SM juga tengah membangun komunikasi dengan sejumlah pelaku usaha biro perjalanan dan agen wisata guna memperluas promosi serta mempermudah akses wisatawan menuju kawasan wisata bahari Sumbawa.
Dengan semangat kolaborasi antara lembaga, komunitas, pemerintah, dan masyarakat, pengembangan wisata hiu paus Teluk Saleh diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat, tetapi juga mampu mengukuhkan posisinya sebagai destinasi ekowisata bahari kelas dunia.


"Kami ingin menjadikan Desa Sangor sebagai pintu masuk wisata bahari internasional di Teluk Saleh. Potensi yang dimiliki daerah ini sangat besar dan harus dikelola secara profesional agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," tegas Musa H.Ibrahim.

Pengembangan kawasan wisata berbasis ekowisata ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat citra Sumbawa sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik di Indonesia. (Jhey/Hery)