Lombok Barat, (postkotantb.com) - Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai pelaksanaan Tabligh Akbar dan Tasyakuran Penamatan santri Yayasan Pondok Pesantren As-Sa’idiyah NWDI Tempos Daye, Desa Tempos, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (04/06/2026). Sebanyak 136 santri dari berbagai jenjang pendidikan resmi ditamatkan pada Tahun Pelajaran 2025/2026.
Kegiatan yang berlangsung meriah dihalaman Ponpes tersebut dihadiri oleh Dr. TGH. M. Zainul Majdi, M.A. (TGB), Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha, anggota DPRD Provinsi NTB dan DPRD Lombok Barat, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, wali santri, serta ratusan jamaah yang memadati lokasi acara.
Ketua Panitia, TGH. Zainul Hafidz, ZH., S.Ag., Assulaty, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan kegiatan sekaligus mengucapkan selamat kepada seluruh santri yang telah menyelesaikan pendidikan mereka.
“Alhamdulillah, tahun ini kami menamatkan 136 siswa dan siswi dari berbagai jenjang pendidikan. Semoga ilmu yang telah diperoleh menjadi ilmu yang berkah, bermanfaat, dan mengantarkan mereka menuju masa depan yang gemilang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta didik yang ditamatkan terdiri atas 29 siswa RA, 61 siswa MTs, dan 46 siswa MA. Para lulusan juga diharapkan terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta tetap menjaga hubungan baik dengan almamater mereka.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren As-Sa’idiyah NWDI Tempos, TGH. Munawir Sa’id, QH., S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perkembangan pondok pesantren. Ia juga memohon maaf atas berbagai kekurangan yang masih ada selama proses pendidikan berlangsung.
“Kami berharap para santri menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara,” tuturnya.
Puncak acara diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh TGB. Dalam ceramahnya, ulama kharismatik asal NTB tersebut memberikan tiga bekal utama kepada para santri dalam menghadapi masa depan.
Pertama, pentingnya menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT serta menghargai jasa orang tua, guru, dan semua pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup seseorang.
“Kita harus pandai bersyukur kepada Allah dan tidak melupakan orang-orang yang telah mendidik serta membantu kita hingga berada pada titik ini,” pesannya.
Kedua, TGB menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan.
“Ilmu adalah bekal paling berharga untuk menghadapi masa depan yang panjang dan penuh tantangan,” tegasnya.
Ketiga, TGB mengingatkan pesan Imam Al-Ghazali tentang adab menuntut ilmu. Menurutnya, menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah sehingga harus diawali dengan niat yang tulus dan hati yang bersih.
Ia juga menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk amal dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ilmu akan menjadi semakin indah ketika dihiasi dengan amal. Ilmu yang diamalkan akan menghadirkan manfaat yang luas dan menjadi cahaya bagi kehidupan,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha memberikan apresiasi atas kontribusi Pondok Pesantren As-Sa’idiyah NWDI Tempos dalam mencetak generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia, tidak hanya dari sisi intelektual tetapi juga moral dan spiritual.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pondok Pesantren As-Sa’idiyah NWDI Tempos yang terus konsisten mendidik dan membina generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengajak para santri untuk terus bermimpi besar dan tidak pernah merasa rendah diri karena menempuh pendidikan di madrasah maupun pesantren.
“Banyak pemimpin besar lahir dari pesantren. Teruslah belajar, disiplin, dan berusaha. Dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, insya Allah cita-cita yang diimpikan akan tercapai,” pesannya.
Kegiatan Tabligh Akbar dan Tasyakuran Penamatan ini menjadi momentum penuh makna bagi para santri yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan mereka. Selain menjadi ajang pelepasan, kegiatan tersebut juga memperkuat silaturahmi antara pondok pesantren, wali santri, alumni, dan masyarakat dalam semangat membangun generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlakul karimah.
Pewarta: Ramli Jamak


0Komentar