Lombok Barat, (postkotantb.com) – Wakil Ketua DPR RI, Hj. Sari Yuliati, hadir memberikan apresiasi dan motivasi kepada 16 wisudawan-wisudawati program Wisuda Takhasus Santri Pondok Pesantren NU Abhariyah, Selasa (04/8/2026).

Dalam sambutannya, Sari Yuliati menegaskan wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. 

"Wisuda hari ini bukanlah wisuda terakhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang dalam mengembangkan pengetahuan dan mengabdi kepada masyarakat," ujarnya.


Politisi Golkar ini juga membagikan kisah pribadinya. Di usia yang hampir setengah abad, ia saat ini masih menempuh pendidikan sebagai kandidat Doktor Hukum di Universitas Padjadjaran. 

"Di usia saya yang hampir setengah abad, saya tetap semangat menuntut ilmu. Teruslah banyak membaca, mencari ilmu, memperluas wawasan, serta meningkatkan kualitas keimanan dan akhlak," tambahnya.

*Komitmen Cegah Santri Putus Sekolah*
Pada kesempatan itu, Sari menyerahkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada para santri Ponpes NU Abhariyah. Ia juga memastikan program KIP Kuliah disalurkan bagi santri yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

"Kami tidak ingin ada santri yang berhenti sekolah atau berhenti mondok karena tidak ada biaya. Untuk itu kami salurkan PIP dan KIP Kuliah untuk Ponpes NU Abhariyah," tegasnya.


Menurut Pengasuh Ponpes NU Abhariyah, Ustadz Imam Kafali, bantuan PIP sudah konsisten disalurkan sejak 2019. 

"Sejak tahun 2019, Ibu Sari sudah menyalurkan bantuan untuk Abhariyah. Program ini sangat membantu santri yang mayoritas dari kalangan menengah ke bawah, sehingga yang tadinya terancam putus sekolah bisa terus melanjutkan pendidikan," jelasnya.

Untuk jenjang SMP, pencairan PIP langsung diterima orang tua santri dan diarahkan untuk menyelesaikan kewajiban administrasi pesantren. Sementara KIP Kuliah dicairkan per semester dan dipastikan digunakan untuk kelancaran studi mahasiswa.

*Bantuan Pembangunan dan Sanitasi*
Selain bantuan pendidikan, Sari Yuliati juga menyerahkan dana Rp100 juta untuk pembangunan Ponpes NU Abhariyah serta bantuan program sanitasi pesantren.

Ia juga memfasilitasi satu unit kendaraan operasional BPKH yang digunakan untuk mengantar santri berobat dan kebutuhan operasional pesantren lainnya.

"Setiap saya ke Abhariyah saya merasa seperti pulang ke rumah, bertemu Umi dan keluarga besar Abhariyah," ungkap Sari yang mengaku memiliki kedekatan emosional dengan pesantren tersebut.

*Dorongan Adaptasi di Era Digital*
Dalam amanatnya, Sari mengingatkan para santri untuk siap menghadapi era digitalisasi dan perubahan zaman yang cepat.

"Saya berharap para santri dapat menjadi generasi yang unggul, beradaptasi dengan teknologi, menjadi teladan di tengah masyarakat, serta menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi agama, nusa, bangsa, dan keluarga," tegasnya.


Ustadz Imam Kafali yang juga Ketua BM Kosgoro 1957 NTB mengapresiasi kepedulian Sari Yuliati yang juga Ketua Umum Kosgoro 1957 terhadap pesantren di NTB, termasuk perhatiannya terhadap kasus kekerasan yang menimpa santri di Lombok.
"Saya dan Ibu Sari ini sudah seperti saudara, sehingga ibu Sari ini adalah bagian dari keluarga besar Ponpes NU Abhariyah," ujarnya.

Wisuda Takhasus tahun ini diikuti 16 santri yang telah menyelesaikan pendidikan selama 7 tahun di Ponpes NU Abhariyah. Sari menutup dengan doa agar keberhasilan para santri menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih baik dan membanggakan orang tua serta almamater. (Ramli Jamak)