![]() |
| Tampak Sunardy Kasim dari pihak UBG Mataram dan P3BN saat perkenalkan wayang ke generasi muda dan bahkan diikuti turis mancanegara.Foto Istimmewa |
Lombok Barat, (postkotantb.com) - Upaya pelestarian seni dan budaya Lombok terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas seni. Salah satunya melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Program Inovasi Seni Nusantara dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiksaintek).
Program ini memberikan ruang bagi komunitas seni untuk menjaga keberlanjutan seni wayang sekaligus mendorong inovasi dalam penciptaan karya baru. Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah penciptaan wayang inovatif yang bersumber dari naskah-naskah lontar Sasak, khususnya cerita rakyat dan tradisi tutur yang mengandung nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Lombok.
Dalam pelaksanaannya,terdapat 3 (tiga) pihak yang berkolaborasi dan bersinergi jadi aplikator utama yakni dari pihak Kemdiktisaintek itu sendiri,Universitas Bumigora (UBG),dan melibatkan Pusat Pelestarian Budaya Nusantara (P3BN) sebagai mitra . Diketahui,UBG berfungsi untuk memberikan pendampingan dan penguatan dalam proses pengembangan karya yang dipimpin oleh Sunardy Kasim.Kemudian P3BN merupakan lembaga yang bergerak di bidang pelestarian seni dan budaya dan beralamat di Gerung, Kabupaten Lombok Barat diketuai P3BN, Ishak Sirullah, S.Pd.,
Kepada media ini pada Jum'at (21/08/2026),Ishak menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada KEMDIKTISAINTEK dan Universitas Bumigora atas dukungan serta kepercayaan yang diberikan kepada P3BN untuk terlibat dalam program tersebut.
Menurut Ishak, program ini memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan baru bagi komunitas dalam mengembangkan seni tradisi melalui pendekatan inovatif.
“Kami sangat berterima kasih kepada Kemendiktisaintek dan Universitas Bumigora yang telah memberikan kepercayaan kepada P3BN sebagai mitra. Melalui program ini, kami dapat kembali menggali cerita-cerita rakyat yang terdapat dalam naskah lontar Sasak dan mengembangkannya menjadi karya wayang baru,” ujar Ishak.
Ia menjelaskan, upaya tersebut penting dilakukan karena tradisi tutur dan cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya Lombok yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Pelestarian budaya, menurutnya, tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk kesenian yang telah ada, tetapi juga membutuhkan inovasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Bagi kami, inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru melalui inovasi, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya,” tambahnya.
Sementara itu, Sunardy Kasim selaku Ketua Pelaksana dari pihak UBG mengatakan bahwa keterlibatan P3BN sebagai mitra merupakan bagian penting dalam pengembangan seni berbasis masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas seni diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi dan pelestarian budaya.
“Tradisi dan inovasi dapat berjalan bersama. Kita ingin menghadirkan karya wayang yang tetap berakar pada budaya Lombok, tetapi dikembangkan melalui pendekatan kreatif sehingga dapat diterima dan diapresiasi oleh generasi masa kini,” ungkap Sunardy.
Melalui program ini, naskah-naskah lontar Sasak tidak hanya dipandang sebagai peninggalan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi dalam penciptaan karya seni baru.Cerita rakyat yang selama ini hidup melalui tradisi tutur masyarakat Lombok diupayakan untuk terus dihidupkan melalui karya wayang dan berbagai bentuk kreativitas seni.
Kolaborasi antara Kemendiksaintek Universitas Bumigora, dan P3BN diharapkan dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pelestarian seni dan budaya di Lombok.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi. Dengan menggali kembali kekayaan naskah lontar dan tradisi tutur, seni wayang Lombok diharapkan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi terus hidup, berkembang, dan menjadi bagian penting dari kehidupan generasi masa kini dan masa yang akan datang.
Sebagai langkah kongkrit,inovasi yang dilakukan sudah pula nampak pada adaptasi tekhnologi berupa pembuatan aplikasi "Mengenal Wayang".
Aplikasi tersebut saat ini terus dikembangkan, baik dari sisi konten, teknologi, maupun pengalaman pengguna, sehingga semakin menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh generasi muda.Sehingga tekhnologi bisa jadi jembatan yang mempertemukan generasi muda dengan budaya seni tradisi.Wayang tidak lagi dipandang sebagai kesenian jadul tapi sebagai warisan budaya yang menarik dan relevan disetiap zaman.
"Kami sudah buat aplikasi Mengenal Wayang,sehingga generasi muda akrab dengan wayang sehingga menjadi bagian dari rutinitas,hobi,dan bahkan gaya hidup mereka,sehingga aktifitas mereka tidak lepas dari lingkup bertradisi dan berbudaya,"pungkasnya.
Diharapkan,setelah program ini selesai,kolaborasi antara P3BN dan Universitas Bumigora Mataram dapat terus berlanjut dan bergerak maju.Tidak berhenti pada selesainya kegiatan,tetapi menjadi awal dari kerja sama yang berkesinambungan.(Irs)




0Komentar