Ilustrasi komuditas kedelai

 

Mataram, (postkotantb.com) - Prospek Budidaya Komoditas Kedelai di Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat dinilai memiliki peluang besar, untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kedelai nasional di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai. 

Hingga tahun 2025, kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,8–3 juta ton per tahun, sementara produksi domestik masih berada pada kisaran 0,9–1,2 juta ton. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia harus mengimpor 60–75 persen kebutuhan kedelai nasional setiap tahun. Dalam satu dekade terakhir, impor kedelai Indonesia tercatat mencapai 2,1–2,8 juta ton per tahun dengan nilai devisa sebesar USD 1,1–1,6 miliar.

Ketergantungan terhadap negara pemasok utama seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina membuat ketahanan pangan nasional rentan terhadap fluktuasi harga global, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok internasional. Di tengah tantangan tersebut, NTB memiliki potensi agroekologi yang sangat menjanjikan untuk pengembangan budidaya kedelai. 

Provinsi ini memiliki lebih dari 1,2 juta hektar lahan kering yang sebagian besar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan, termasuk kedelai. Karakteristik iklim dengan pola hujan musiman, keberadaan embung, serta lahan tegal dan lahan tidur menjadi modal penting dalam mendukung perluasan areal tanam kedelai secara berkelanjutan. Berdasarkan peta kesesuaian lahan Kementerian Pertanian, sekitar 180 ribu hingga 210 ribu hektar lahan di NTB dinilai sesuai untuk budidaya kedelai.

Wilayah potensial tersebar di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima. Dengan penggunaan varietas unggul dan penerapan teknologi pertanian modern, produktivitas kedelai di NTB berpeluang meningkat dari rata-rata 1,2–1,5 ton per hektar menjadi 2,0–2,8 ton per hektar. Namun demikian, pengembangan kedelai di NTB masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar.

Permasalahan utama meliputi keterbatasan akses air irigasi, penggunaan benih tidak bersertifikat, lemahnya kelembagaan petani, minimnya infrastruktur pasca panen, hingga rendahnya akses pembiayaan usaha tani. Selain itu, dampak perubahan iklim seperti El Niño dan anomali curah hujan juga meningkatkan risiko gagal panen di wilayah lahan kering.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan strategi pengembangan berbasis klaster agribisnis terintegrasi. Konsep ini menghubungkan produksi, pengolahan, pemasaran, pembiayaan, hingga pendampingan teknologi dalam satu kawasan terpadu. 

Pengembangan klaster kedelai direncanakan di sejumlah wilayah potensial seperti Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa dengan dukungan pusat benih, embung, irigasi hemat air, unit pengolahan, serta koperasi pemasaran. Penerapan teknologi pertanian presisi juga menjadi bagian penting dalam transformasi budidaya kedelai di NTB. 

Penggunaan sistem irigasi tetes, sensor kelembaban tanah, pemetaan digital lahan, hingga mekanisasi panen dan pasca panen diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi risiko kerugian petani akibat perubahan iklim dan tingginya biaya produksi. 

Selain peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi kedelai di NTB dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar. Pengembangan industri tahu, tempe, susu kedelai, tepung kedelai, hingga pakan ternak berbasis kedelai lokal dapat membuka lapangan kerja baru, memperkuat UMKM pangan, serta meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat perdesaan.

Melalui implementasi strategi jangka pendek, menengah, dan panjang yang terukur, NTB ditargetkan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap produksi kedelai nasional menjadi 8–12 persen pada tahun 2036. Dengan dukungan pemerintah, swasta, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat petani, NTB diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan agribisnis kedelai lahan kering di Indonesia Timur sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (@ng)